Langsung ke konten utama

Postingan

3 CERITA BIJAKSANA YANG VIRAL DI HATI SAYA

Sudut cerita:  Tiga kisah ini sebenarnya telah di posting di halaman adedansasa.com dengan jumlah tayangan 18 ribu kali di baca.Saya menyadurnya dari buku bacaan saya semasa masih SD dulu. Zaman jadul yang mungkin belum pernah kalian lewati. Berikut tiga cerita tersebut: 1. ORANG YANG TIDAK SUKA KAYA Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang lelaki penyabit rumput, dia hidup dari hasil menyabit rumput dan menjualnya untuk makanan ternak. Dari pekerjaan itu dia mendapatkan uang 40 sen setiap hari, 20 sen untuk makan, 20 sen lagi ditabungnya.  Tidak terasa hari demi hari berlalu, sampai suatu hari dia membuka tabungannya yang telah terkumpul sekian tahun, ternyata uang tersebut telah menjadi dua juta rupiah, si lelaki bingung mau diapakan uang sebanyak itu akhirnya dia pergi berjalan jalan ke kota dan melihat perhiasan perhiasan cantik di sebuah toko emas. Dia melihat sebuah cincin dan ingin membelinya. Cincin itu harganya satu juta rupiah, dan dia membawanya pulang. Dia memakainya di jari

Paradox Cinta Ilahi

A ndy Weir menulis sebuah cerpen pada tahun 2009, cerpen yang sangat menarik, indah sekaligus menakutkan jika dia bercerita perihal ide realitas hidup kita, semacam multiverse dalam fiksi sains dan fisika. "Aku adalah Tuhan dan Kamu sedang dalam perjalanan pulang ke rumah ketika kamu meninggal..."  Sebuah kecelakaan mobil, sebenarnya bukan peristiwa luarbiasa tetapi kematian tidak pernah memberikanmu pilihan. Kamu meninggalkan seorang isteri dan dua orang anak. Kematianmu itu tidak terlalu menyakitkan, paramedis telah berusaha menyelamatkan hidupmu, tetapi tidak ada harapan, tubuhmu telah hancur, dan itu lebih baik, percayalah kepadaku.... Dan disana, kamu akhirnya bertemu dengan Aku. "Apa yang terjadi? " kamu bertanya. " Dimanakah aku kini ? "  "Kamu sudah meninggal," Jawabku dengan datar. Dan itu jelas bukan seperti yang ingin kamu dengar.  "Apakah tadi aku ditabrak truk?...Di sebuah tanjakan...?"  "Benar" Jawabku  &quo

PARADOX MENGELILINGI KEYAKINAN KITA

Apa yang kita rasakan sebagai kebenaran, apa yang kita yakini sebagai kebenaran, sebaiknya kita memikirkan ulang sebelum berkonfrontasi dan terperangkap ke dalam situasai intoleransi. Ini berlaku pada setiap individu yang mempercayai hak kebebasan untuk berfikir. Bukan hanya karena seseorang merasa dirinya benar dan karena kebenaran sering dapat 'diadu' dalam artian harfiah seberapa  sering orang mempertengkarkan suatu prinsip dan mengatakan bahwa dialah yang benar. Dari sisinya sendiri mungkn YA, tapi tidak dari sisi lawan (opponent). Orang Kristen pasti sangat mencintai dan meyakini agamanya dan bahwa keyakinan kristiani itu sangat benar. Orang Islam dan Yahudi meyakini Imannya terhadap Allah dan Yahweh adalah kebenaran mutlak, kecintaan tanpa batas, bahkan meskipun memperdebatkannya hingga darah tertumpahpun tidak akan ada bukti bahkan perdebatan hingga 'skak mat' pun tidak menunjukan kebenaran apa apa, karena yang kalah kehabisan kata bukan berarti mereka kehabisan

Mengapa kebenaran, cinta dan keadilan terasa absurd?

Dalam hidup kita akan merasakan banyak paradox, hanya jika kita mau berfikir lebih dalam, berani melanggar tabu, dan berfikir di luar kotak. Ya seperti itulah akal fikiran kita berfungsi. Karena pemikir besar selalu berani untuk melakukan perubahan termasuk terhadap melanggar norma norma yang telah ada. Mereka kita sebut sebagai kaum 'Pembaharu'. Dan tidak sedikit yang menentang, namun akhirnya suara mereka akan mendapatkan tempat walaupun bukan di hati orang orang pada zamanya. Mereka mengatakan itu sebagai kebenaran, tapi tunggu, apa sih di dunia ini yang tidak mengandung paradox? Termasuk kebenaran 'hakiki' yang di klaim oleh sebagian besar orang. Misalnya: Apakah kebenaran itu menurut Anda, menurut kekasih Anda, menurut teman teman dan keluarga Anda? Jauh lebih penting dari itu jika ingin melihat segala sesuatu di luar kotak adalah dengan bertanya: Apakah kebenaran itu menurut musuh musuh dan lawan lawan Anda? Bagaimana bentuk rupa dunia ini seandainya semua orang m

GADIS DI BALIK PAYUNG HITAM

Aku telah berhenti jatuh cinta sebelum bertemu kamu kembali. Dan tampaknya itu benar. Kamu bukanlah orang asing, dan kamu sebenarnya, pernah begitu dekat denganku, sebagai seorang sahabat. Ketika sebagai seorang remaja sampai setamat sekolah SMA aku harus pergi ke luar kampung mengingat ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan aku melanjutkan pendidikan hingga ke bangku kuliah, aku memang bertemu Nisye, Ratna dan Dila. Mereka semua memutuskan untuk pergi meninggalkan aku karena hidupku yang belum mapan. gadis yang berteduh dibawah payung hitam Aku pernah pamit kepadamu, hanya kepadamu karena ku pikir hanya kamu sahabatku. Walaupun kamu hanya seorang gadis, adik kelasku. Tapi sikapmu yang lebih dewasa dan tegas membuat aku mempercayaimu melebihi teman teman sesama cowok. Tahun pertama aku sampai di negeri seberang, Malaysia. Dan aku mendapatkan berbagai jenis pekerjaan keras. Aku pernah menaiki gedung lantai 80 dan bekerja di sana diantara angin yang berhembus keras, merasa

Kisah UAS Dan Mellya Juniarti: Tidak ada yang abadi.

Sudah lama saya tidak menulis di halaman blog ini, karena lebih banyak terfokus pada pekerjaan sehari hari. Sampai akhirnya saya tergelitik untuk ikutan menulis tentang UAS, setelah membaca berita yang bertebaran di internet. Ustadz Abdul Somad Menulis menurut sudut pandang saya sendiri. Atau lebih spesifiknya sebagai seorang blogger. Fakta 1. Ustad Abdul Somad - Mellya Juniarti Resmi bercerai. Peristiwa ini menarik perhatian saya apalagi tentang hubungan dua insan yang pernah bertekad memilih hidup bersama selamanya. Siapa sih yang ingin berpisah? Ada gambar gambar dan tulisan sudah bertebaran di internet, di medsos dan akan sulit di hapus lagi dari dunia maya karena jalin menjalin sangat kuat di dalam library di dunia website. Dunia jaringan yang jerat menjerat. Saya tahu itu karena saya peminat web dan mengerti segala impikasinya terhadap kehidupan dan privasi manusia pada saat ini. Dunia sekarang telah hampir kepada dimana dinding, lantai dan langit dapat mendengarkan