PARADOX MENGELILINGI KEYAKINAN KITA

Apa yang kita rasakan sebagai kebenaran, apa yang kita yakini sebagai kebenaran, sebaiknya kita memikirkan ulang sebelum berkonfrontasi dan terperangkap ke dalam situasai intoleransi. Ini berlaku pada setiap individu yang mempercayai hak kebebasan untuk berfikir.
paradox kebenaran
Bukan hanya karena seseorang merasa dirinya benar dan karena kebenaran sering dapat 'diadu' dalam artian harfiah seberapa  sering orang mempertengkarkan suatu prinsip dan mengatakan bahwa dialah yang benar. Dari sisinya sendiri mungkn YA, tapi tidak dari sisi lawan (opponent).

Orang Kristen pasti sangat mencintai dan meyakini agamanya dan bahwa keyakinan kristiani itu sangat benar. Orang Islam dan Yahudi meyakini Imannya terhadap Allah dan Yahweh adalah kebenaran mutlak, kecintaan tanpa batas, bahkan meskipun memperdebatkannya hingga darah tertumpahpun tidak akan ada bukti bahkan perdebatan hingga 'skak mat' pun tidak menunjukan kebenaran apa apa, karena yang kalah kehabisan kata bukan berarti mereka kehabisan pikiran bisa saja karena kata kata tidak lagi cukup untuk menjabarkan isi di dalam pikiran - bahkan jika Anda mengajukan bukti itu hanya akan terlihat masuk akal ketika seseorang tersentuh ingin memeluk Kristen, Islam atau Yahudi. 

Bukankah disamping agama, keyakinan dan ada sisi ego, emosi, amarah, benci dan cinta kasih menyertainya? Semuanya jalin menjalin dan membentuk tujuan apakah seseorang kiranya akan memilih salah satu agama tersebut. Merasa menang pada perdebatan bagi pengamat hanyalah terlihat sebagai ke kanak kanakan. Pandai bersilat lidah tidak akan membuktikan apa apa lagi.

Tidak segala hal dapat kita jelaskan, tidak juga untuk dapat dengan mudah dimengerti.

Seorang penyiar agama yang pintar akan mempertimbangkan sudut psikologis objek sasarannya: Sasaran ekonomi, sasaran emosional, sasaran sasaran lainnya. Jadi samasekali tidak mengherankan jika suatu ketika seseorang yang sangat taat memeluk agama tertentu tiba tiba terlihat berbalik arah memeluk agama lawan dan menjadi pejuang yang gigih disana. Terakhir ada janji kerajaan sorga pada keyakinan para pemeluk agama.

Lihat apa itu kebenaran pada posisi masing masing subjek: 2 Orang berada di ruang angkasa yang hampa udara, tidak ada daya tarik benda. Kecuali kapal angkasa mereka masing masing. Anggaplah bumi berada diantara mereka berdua. Atau anggap saja satu orang di dalam kapal dengan koordinat selatan, sedangkan yang lain berada pada koordinat lintang utara (berkebalikan).

Kapal itu di lengkapi dengan sistem magnetik meniru daya tarik bumi. Mereka melihat melalui jendela kapal dan memandang ke bumi. Mengapa kedua penghuni kapal angkasa merasa bumi diatas mereka? 

Kata penghuni kapal angakasa lintang selatan: "bumi tepat di atasku, anda berada di bawahnya".

Namun dari pesawat telekomunikasi penghuni kapal angkasa lintang utara menyahut dengan tegas: "Tidak, bumi tepat di atasku artinya bumi di bawahmu"

halo bumi di atas kami

PENGAMAT BERADA DI LUAR PESAWAT
Mereka berfikir di luar kotak...
Sama seperti ruang dan waktu relatifnya Albert Einstein, pengamat yang berada di luar, tidak berada pada kedua pesawat tadi, tidak setuju pada kedua penumpang di dua pesawat tadi. Pengamat melihat hal lain: Karena di dalam masing masing pesawat ada mekanisme yang menarik penumpang ke lantai sehingga apapun yang ada di atas kepala mereka adalah 'di atas'. Jika mereka keluar dari kedua pesawat tadi kebenaran akan terlihat jadi berbeda.

Kesimpulannya: Masing masing Mereka adalah benar ketika berada di dalam pesawat masing masing, hampir tidak ada pilihan untuk menjabarkannya. Pesawat itu akan menyelamatkan mereka selagi mereka tetap konsisten berada di dalamnya. Jika mereka keluar apalagi pada saat terjadi pertempuran, mereka akan celaka.

Sebaliknya hanya pada sangkaan masing masing mereka saja bahwa lawan mereka salah, ketika masing masing mereka adalah benar. Diperlukan keberanian berfikir diluar kotak untuk berdamai dan saling memaafkan.

Sebab itulah muncul kisah di padang kurusetra, muncul para satria seperti Salahuddin Al Ayubi dan Richard Lion Heart. Mereka berperang atas nama keyakinan mereka masing masing, saling membunuh dan melukai namun pada akhirnya saling menghormati.

RUANG DAN WAKTU RELATIF
Konsep Ruang Waktu relatif Einstein mematahkan paradigma lama tentang Ruang Waktu Absolute. Ruang waktu absolute dimana orang berfikir waktu itu mutlak tidak bisa berubah dan apalagi di rubah. Satu tahun lama dan jaraknya adalah satu tahun. Dan itu masih menjadi keyakinan orang hingga zamannya Isaac Newton.

Akan tetapi Einstein memberikan pembuktian lain, dan itu berdampak terhadap cara pandang orang terhadap ruang waktu pada saat sekarang. Itu merombak cara pandang lama sangat ekstreem, bahwa ruang waktu tidak absolute, tidak mutlak, ruang waktu itu relatif.

Pandangan Einstein sama halnya dengan pandangan para ilmuwan sebelumnya tentu saja bukanlah kebenaaran, akan tetapi paling tidak ia telah memberikan cara untuk memuaskan logika dalam mencari kebenaran. Semenjak Einstein mengeluarkan teori tersebut fantasi ruang waktu bergulir liar: 
  • Apakah kita bisa membuat mesin waktu
  • Kembali ke masa lalu,
  • kembali lagi kemasa kini
  • Atau terbang ke masa depan?
Dan mengapa kita tidak abadi. Mengapa kita anya memiliki satu saja kesempatan dalam hidup ini. Apakah ada dimensi ruang waktu lain tempat diri kita hidup?

Jika seseorang memiliki beberapa pilihan di awal hidupnya:
Menikah dengan wanita yang ia cintai
Menikah dengan Janda kaya

Pilihan pertama: Anggaplah ia memilih menikahi wanita yang ia cintai dan meninggalkan si Janda kaya. dan perjalanan hidup setelah itu membawanya hidup bersama wanita yang ia cintai, wanita itu ternyata pemboros, seberapa keraspun ia bekerja tidak menghasilkan apa apa, begitu juga mertuanya yang selalu memanfaatkannya. Setelah itu hidupnya melarat, ia di tinggalkan. Pilihan pertama salah, adilkah menyalahkannya?

Pilihan kedua: Ia menikahi Janda kaya yang memiliki toko, dan karena pada dasarnya ia seorang pekerja keras ia akhirnya dapat mengembangkan banyak cabang toko hongga keluar kota. Mereka jadi makmur dan memiliki banyak anak, berangkat naik haji. Suatu ketika di promosikan menjadi anggota DPR berkat harta yang melimpah.

Tetapi, itulah ruang waktu, kita hanya memiliki satu kesempatan setelah itu kita hanya bisa memulainya kembali dari nol. Pada awal hidup orang akan memilih idealisme cinta ketimbang harta, maka itulah ia memilih cinta. Cinta bisa mendatangkan kekuatan namun bisa berakhir seperti kisah kisah orang kebanyakan. Di butuhkan berfikir rasio sejak dari awal kehidupan kita. Disini kebenaran mengandung paradox seperti ungkapan berikut:

"If loving you is wrong, I do not want to be right" (Jika mencintai dirimu salah, aku tidak mau menjadi benar)

Jadi terkadang kebenaran tidak mengandung harga yang mutlak, yang memutlakannya adalah para penganutnya...

Siapa yang benar dan siapa yang salah sangat jelas terlihat di dalam dunia kita yang sempit, akan tetapi menjadi sangat berbeda ketika berada di luar kotak dan mengamatinya: Tidak ada yang salah dan yang benar, hidup di dalam ruang waktu adalah sebuah proses yang berulang ulang, silih berganti, terlihat benar hari ini, ternyata salah pada keesokan harinya...Hidup di dalam lingkaran waktu adalah adukan antara yang salah dan benar, hitam dan putih, kalah dan menang...demikianlah selamanya.

Hanya karena kita berada dalam salah satu kotak, kita harus berpegang teguh pada satu keyakinan, dan kadang melupakan bahwa orang orang yang kita cintaipun terkadang berbeda keyakinannya dengan diri kita sendiri..
 
Ikuti terus trik, tips, teknik hack dan kabar terupdate dari blog ini! Share:

Komentar

Posting Komentar

2 IN 1: from EDITBLOGTEMA to EDITBLOGTEMPLATE